BIDIKNEWS – INDONESIA // KABAR DAERAH BUNGO- JAMBI, 16 Desember 2025 – Kritik tajam dilayangkan terhadap pernyataan Kepala SMAN 1 Bungo (SMANSA), Bapak Lugimin, S.Pd., yang berkomitmen menumbuhkan “budaya positif” pasca-penghargaan.
Pernyataan pada sebuah rilis berita media daring yang sudah ditayang salah satu rekanan media di Bungo berjudul ” SMA 1 Bungo Raih Anugrah Sekolah Berinovasi Dan Berkinerja Baik Dari Gubernur Jambi”. (16/12/25)
Cita-cita luhur tersebut dinilai mustahil tercapai selama lingkungan sekolah masih dicemari oleh dugaan praktik korupsi dan pungutan liar (pungli) yang telah menjadi sorotan publik.
Berdasarkan berbagai pemberitaan yang beredar luas, SMANSA diduga kuat telah menjadi lokasi berulangnya praktik yang mencederai integritas pendidikan, antara lain:
• Pungli Iuran Komite Sekolah Rutin: Adanya iuran uang Komite Sekolah yang bersifat rutin, tidak transparan, dan berpotensi menjadi pungli.
• Pungutan Sewa Laptop: Terdapat iuran untuk menyewa laptop yang dibebankan kepada siswa beberapa bulan lalu.
• Suap PPDB: Tercium aroma tajam praktik suap dan ketidakjujuran dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada awal tahun ajaran baru.
Otoritas Moral Runtuh di Hadapan Siswa, Praktik-praktik yang mengandung unsur korupsi ini bukan hanya masalah administratif, melainkan KRISIS OTORITAS MORAL yang menghancurkan pondasi pendidikan karakter.
”Saat guru mengajarkan nilai kejujuran di kelas, tetapi di lorong-lorong sekolah, siswa menyaksikan sistem bekerja melalui suap dan pungli, maka otoritas moral pendidik otomatis hangus. Siswa diajarkan secara praktik bahwa integritas dapat dibeli atau diabaikan,” kata salah seorang Pengamat Kebijakan Pendidikan yang enggan disebutkan namanya
Target sekolah untuk “menumbuhkan budaya positif” dan “penguatan karakter peserta didik” menjadi retorika kosong jika tidak didukung oleh praktik nyata di lingkungan kepemimpinan.
BUDAYA POSITIF BUTUH NOL TOLERANSI TERHADAP KORUPSI
Budaya Positif adalah manifestasi dari Nilai-Nilai Kebajikan Universal, di mana Integritas, Kejujuran, dan Keadilan menjadi nilai utama. Pelanggaran sistematis terhadap nilai-nilai ini di tingkat manajerial sekolah memiliki dampak jangka panjang:
• Generasi Sinis: Siswa didorong untuk menjadi pragmatis, meyakini bahwa koneksi dan uang lebih penting daripada prestasi dan kejujuran.
• Kerusakan Ekosistem Belajar: Lingkungan belajar yang seharusnya aman dan nyaman menjadi penuh ketidakpastian dan ketidakadilan, terutama bagi siswa yang miskin dan berprestasi.
• Pengkhianatan Amanat: Prestasi akademik dan non-akademik yang diraih akan kehilangan bobot moral jika dicapai melalui sistem yang cacat etika.
Tuntutan Mendesak: Buktikan Integritas Sekolah, SMAN 1 Bungo harus segera menghentikan klaim Budaya Positifnya dan fokus pada pemulihan integritas institusi. Kami menuntut:
• Audit Keuangan Mendalam: Investigasi segera dan independen terhadap semua iuran dan sumbangan, termasuk dana Komite dan sewa laptop, untuk membuktikan akuntabilitas penggunaan dana.
• Investigasi PPDB: Penyelidikan transparan dan tuntas terhadap dugaan suap PPDB dengan sanksi terberat bagi oknum yang terlibat.
• Penegakan Etika: Penerapan kode etik keras yang menjadikan nol toleransi terhadap segala bentuk pungli atau korupsi sebagai syarat mutlak bagi guru dan staf.
Komitmen SMAN 1 Bungo untuk “kolaborasi seluruh elemen sekolah” harus dimulai dengan kolaborasi untuk memerangi praktik busuk yang merusak moralitas pendidikan. Tanpa langkah pembersihan fundamental, penghargaan yang diterima hanyalah kamuflase yang menutupi kegagalan moral institusi.
(Tim Liputan Khusus BNP)



