BIDIKNEWS – INDONESIA // KABAR DAERAH MUARA BUNGO – Ketidakadilan nyata tengah dirasakan oleh pelanggan PDAM Pancuran Telago. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, warga justru dihantam lonjakan tagihan air yang melambung hingga dua kali lipat. Jum’at(19-12-2025)
Ironisnya, lonjakan ini tidak dibarengi dengan kualitas layanan, melainkan berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Salah satu pelanggan yang menjadi korban ketidakadilan ini mengungkapkan kekecewaannya.
Bagaimana mungkin, rumah tangga yang hanya dihuni oleh dua orang dengan pola konsumsi air minimalis hanya untuk mandi dan cuci tanpa bak penampungan besar (tedmon) justru dibebani tagihan yang membengkak hingga puluhan unit.
Fakta Pahit di Balik Meteran Air Ketimpangan Konsumsi Pelanggan hanya menggunakan 3 ember sedang untuk menampung air, namun tagihan melonjak seolah menggunakan air untuk industri. Di mana logika penghitungan meterannya?
Layanan “Setengah Hari”: Suplai air jauh dari kata maksimal. Air hanya mengalir sejak jam 2 siang hingga mati menjelang jam 3 subuh. Pelanggan dipaksa membayar penuh untuk layanan yang “setengah hati”.
Mati Air Tanpa Kompensasi: Kejadian air mati berhari-hari tanpa pemberitahuan sudah menjadi rahasia umum. Namun, saat air mati, tagihan tetap berjalan lancar dan pihak PDAM seolah menutup mata terhadap kerugian pelanggan. Tidak ada ganti rugi, tidak ada kompensasi, apalagi permohonan maaf secara profesional.
Pihak pelanggan menegaskan bahwa sebagai perusahaan jasa milik pemerintah, PDAM Pancuran Telago seharusnya mengedepankan profesionalisme dan memahami Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
”Kalau kami telat bayar, kami didenda atau diputus. Tapi kalau PDAM telat suplai air, atau air yang mengalir keruh dan tidak layak, apa kompensasi untuk kami? Ini soal Hak dan Kewajiban yang tidak seimbang!” tegas pelanggan dengan nada kecewa.
Publik menuntut transparansi. Rakyat tidak mau tahu alasan teknis perusahaan; yang rakyat tahu adalah mereka membayar untuk mendapatkan jasa, bukan untuk mendapatkan tagihan kosong saat air mati atau tagihan “gaib” yang melonjak tanpa dasar penggunaan yang jelas.
Jangan biarkan rakyat kecil terus menjadi sapi perah di balik alasan “operasional”. Keadilan harus tegak: Ada Kualitas, Ada Pembayaran. Ada Kerusakan, Harus Ada Kompensasi!
Lonjakan “Gila-Gilaan”: Dari 100 Ribu ke 200 Ribu Tanpa Penjelasan! Data yang berhasil dihimpun menunjukkan kejanggalan yang luar biasa. Sebelumnya, tagihan pelanggan berada di angka yang stabil dan logis, yakni di kisaran Rp87.000 hingga Rp100.000. Namun, secara mendadak dan tanpa ada perubahan pola pemakaian, tagihan tersebut melompat hingga menyentuh angka Rp197.000 (hampir 200 ribu rupiah).
”Kenaikan ini mencapai 100 persen lebih! Padahal rumah hanya diisi dua orang. Ini bukan lagi soal penyesuaian tarif, tapi ini beban yang mencekik leher rakyat kecil,” ungkap pelanggan dengan nada getir.
Pelanggan juga menyoroti komunikasi internal pihak penyedia yang sebelumnya memberikan harapan akan adanya pengecekan atau kebijakan tertentu, namun kenyataannya di lapangan justru berbanding terbalik. Bukannya solusi yang didapat, justru “surat cinta” berupa tagihan membengkak yang mendarat di meja warga.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit dan pengeluaran rumah tangga yang terus membumbung tinggi, lonjakan tagihan air yang tidak rasional ini dianggap sebagai bentuk kezaliman manajemen. PDAM Pancuran Telago seolah tidak memiliki empati terhadap kondisi ekonomi pelanggannya.
”Kami bukan tidak mau bayar, tapi kami menuntut keadilan. Jangan jadikan kami korban kesalahan sistem atau meteran yang tidak akurat. Jika pemakaian kami hanya sebatas mandi dan cuci dengan tiga ember, dari mana datangnya angka 200 ribu itu?”
Masyarakat mendesak pihak Direksi PDAM Pancuran Telago untuk tidak hanya duduk diam di balik meja. Segera turun ke lapangan, temui warga yang terdampak, dan berikan penjelasan yang transparan serta solusi berupa penyesuaian tagihan yang adil. Rakyat tidak butuh janji manis, rakyat butuh angka tagihan yang logis!
Tim Liputan Khusus BNP



