BIDIKNEWS-INDONESIA Lintas-Daerah Jawa Barat, 11 Maret 2026 – Pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) kembali menjadi sorotan setelah tim investigasi menemukan dugaan pembagian paket makanan yang dirapel untuk tiga hari sekaligus kepada siswa. Temuan ini terjadi pada pelaksanaan program selama tiga hari berturut-turut, Senin hingga Rabu, 9–11 Maret 2026.
Dalam penelusuran di lapangan, paket makanan yang dibagikan kepada siswa disebut sebagai jatah untuk tiga hari sekaligus. Paket tersebut disalurkan oleh penyelenggara program, yaitu SPPG Yayasan Riang Riang Gembira, Desa Wanajaya, Cisololok, Kabupaten Sukabumi.
Isi paket yang diterima siswa antara lain kurma merek Nesir Golden seberat 30 gram sebanyak satu kemasan, buah semangka dan melon cincang dalam satu kemasan, satu kotak susu Ultra Milk, empat buah roti, serta satu kemasan abon.
Menu tersebut langsung memicu pertanyaan mengenai kecukupan standar gizi yang seharusnya dipenuhi dalam program makan bergizi bagi anak sekolah. Selain jumlahnya terbatas untuk ukuran kebutuhan beberapa hari, komposisi makanan yang diberikan dinilai tidak mencerminkan pola makan seimbang yang umumnya menjadi acuan dalam program pemenuhan gizi anak.
Lebih jauh, praktik pembagian makanan yang dirapel selama tiga hari juga menimbulkan kekhawatiran mengenai mekanisme distribusi program. Program Makan Bergizi pada prinsipnya dirancang untuk dibagikan setiap hari selama kegiatan belajar di sekolah berlangsung, agar siswa mendapatkan asupan nutrisi secara rutin dan terukur.
Namun fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Siswa justru menerima satu paket makanan yang disebut sebagai jatah untuk tiga hari sekaligus.
Sejumlah sumber di lingkungan sekolah mengungkapkan bahwa pola pembagian tersebut berpotensi mengurangi efektivitas program yang seharusnya menjamin pemenuhan gizi harian bagi anak.
Menurut mereka, ketika makanan dibagikan sekaligus untuk beberapa hari, kualitas pangan berisiko menurun, sementara kebutuhan nutrisi harian siswa tidak dapat dipastikan terpenuhi.
Selain persoalan distribusi, komposisi menu yang didominasi makanan kemasan dan makanan ringan juga menjadi sorotan. Dalam paket tersebut tidak ditemukan menu utama yang umumnya menjadi komponen penting dalam pemenuhan gizi anak sekolah, seperti sumber protein segar, karbohidrat utama, maupun sayuran yang memadai.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai standar perencanaan menu yang digunakan oleh pihak penyelenggara program.
Hingga laporan ini diterbitkan, pihak Yayasan Riang Riang Gembira belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan pembagian paket rapelan tiga hari tersebut maupun standar gizi yang digunakan dalam penyusunan menu.
Tim investigasi masih berupaya meminta klarifikasi kepada pihak yayasan, sekolah, serta instansi terkait guna memastikan apakah praktik ini merupakan kebijakan tertentu dalam pelaksanaan program atau justru penyimpangan dari pedoman yang seharusnya berlaku.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan program makan bergizi masih menjadi persoalan serius di tingkat lapangan. Tanpa kontrol yang ketat dan transparansi dalam pelaksanaannya, program yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah berpotensi tidak berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.(red)
BNP-Red-020



