BIDIKNEWS INDONESIA // KABAR LINTAS DAERAH MUARA BUNGO – JAMBI; 4 Mei 2026 – Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bungo dalam melakukan revitalisasi Taman Kota di Kelurahan Jaya Setia, Kecamatan Pasar Muara Bungo, kini memicu polemik kemanusiaan.
Di balik ambisi mempercantik tata kota, terdapat jeritan para pelaku usaha kecil, khususnya pemilik Rumah Makan Ampera yang berada tepat di samping Kantor Lurah Jaya Setia, yang terancam kehilangan mata pencaharian tanpa solusi konkret.
Isak Tangis yang Terabaikan
Meski para pedagang telah memohon hingga meneteskan air mata meminta tenggang waktu hingga bulan Juni mendatang, kebijakan Pemerintah Daerah tampaknya sudah bulat. Aspirasi warga yang meminta kebijakan kemanusiaan demi menyambung hidup seolah membentur dinding keras kekuasaan.
Salah satu pedagang Rumah Makan Ampera mengungkapkan kegundahannya dengan nada lara. Waktu singkat yang diberikan pihak Pemda untuk mengosongkan lahan dianggap sebagai beban yang mustahil dipikul dalam semalam.
“Kami bingung harus ke mana. Selama ini sewa bangunan hanya Rp6.000.000,- per tahun. Sekarang, kami dipaksa mencari tempat baru yang harganya mencapai Rp26.000.000,- per tahun. Dari mana kami dapat uang sebesar itu dalam waktu singkat?” ujar pedagang tersebut dengan wajah mendung.
Dilema Konstitusi dan Realita Lapangan
Ironi menyelimuti proses pembangunan ini. Di satu sisi, pemerintah mengejar predikat kota yang indah dan hidup, namun di sisi lain, hak dasar warga untuk mendapatkan kehidupan yang layak sebagaimana diatur dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia seolah terpinggirkan.
Hingga saat ini, belum terlihat adanya fasilitasi tempat singgah sementara atau solusi alternatif dari Pemerintah Kabupaten Bungo bagi warga yang terdampak. Publik kini mulai mempertanyakan sejauh mana tingkat kepekaan sosial para pemangku kebijakan.
Salah seorang aktivis senior yang juga pemerhati sosial ekonomi dimasyarakat menyebutkan beberapa poin krusial yang menjadi sorotan publik, yakni ketimpangan Ekonomi, Kenaikan biaya sewa dari Rp6 juta ke Rp26 juta tanpa subsidi pemerintah.
Minimnya empati para pemangku tampak dari penolakan permohonan tenggang waktu yang diajukan warga. Skala Prioritas Apakah estetika taman jauh lebih berharga daripada stabilitas ekonomi rakyat kecil?
Wajah murung dan duka mendalam yang terpancar dari para pedagang adalah potret nyata dari kebijakan yang dianggap “tebang pilih”.
Masyarakat Bungo kini menyoroti rasa kemanusiaan para pemangku kebijakan apakah semua abai akan jeritan warga, dan tetap melanjutkan penggusuran tanpa rasa iba, atau justru membuka ruang dialog untuk memberikan solusi bijaksana berkeadilan sebagai bentuk nyata rasa peduli kasih sayang kepada rakyatnya sendiri.
Taman yang indah memang dambaan semua warga, namun taman yang dibangun di atas air mata warganya sendiri akan meninggalkan noda dalam sejarah kepemimpinan daerah. Taman Kota Bungo Bersolek, Perut Rakyat Tercekik, Isak Tangis Pedagang Ampera di Balik Megahnya Wacana Revitalisasi Taman Kota?
(BNP.008)
