Bidiknews Liputan khusus Indonesia : Indonesia ; Tahun Baru Islam/ Hijriah / Suro itulah sebutan khusus masyarakat indonesia dalam menyebutnya.
Hijriah sendiri di mulai sejak zaman kekhalifahan umar bin khattab dengan menyebutnya Kalender Hijriah yang tahun pertamanya yaitu ketika nabi Muhammad Hijrah dari ke mekah ke madinah tahun 622 masehi dan orang islam menyebutnya sebagai tahun baru islam.
Sedangkan Suro berdasarkan keyakinan masyarakat Jawa asal usul nya di tetapkan sebagai tahun baru jawa yang di lakukan sejak zaman kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo ( 1613-1645 )
Sedangkan kalimat Suro sendiri kerasal dari bahasa arab ” Asyura yang berarti Sepuluh atau hari ke sepuluh bulan Muharram ” lalu lidah jawa menyebutnya menjadi Suro.
Bulan suro sendiri di anggap sakral atau keramat karena di anggap bulan yang paling agung atau mulia bahkan ada yang menganggap kebalikan nya malam suro di anggap sebagai malam yang seram sebab malam suro di anggap sebagai malam dimana mahluk halus dengan mudah masuk ke alam manusia atau lebih singkat nya di anggap sebagai bulan nya mahluk ghoib,sehingga banyak masyarakat melakukan ritual ritual khusus.
Biasanya ritual ini di lakukan untuk tolak bala,mempertajam kesaktian diri dan pusaka peninggalan atau bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Banyak pantangan-pantangan di dalam bulan suro menurut suku jawa salah satu nya di larang hajatan ( nikah atau sunatan,berpergian,pindah rumah ) kenapa di larang sebab di percaya akan membawa kesialan dan itu sudah di yakini masyarakat luas secara turun temurun.
Santoso ( Praktisi Spiritual asal Jawa Timur ) menuturkan jangan jadikan perbedaan pandangan antara sudut pandang agama dengan budaya,sebab inilah indonesia,negara yang di dalam nya ada Agama,Sejarah dan Budaya.
Dari sisi Agama saja sudah pasti berbeda praktek keyakinan dalam menyambut bulan Suro/ Muharram.
Dari sisi Sejarah jelas juga tidak sama,apalagi dari sisi budaya jelas sekali pasti akan banyak perbedaan yang berujung perdebatan.
misalkan budaya pulau sumatera dengan jawa berbeda,jawa dengan kalimantan berbeda dan lain sebagainya.
Maka jangan jadikan perbedaan itu sebagai perpecahan tapi jadikan perbedaan itu sebagai keindahan.
Contoh kecil saja dalam kehidupan sehari hari,misalkan di Jawa tengah dan Jawa timur keberadaan Dupa dalam kehidupan sehari hari di anggap hal yang biasa,sebab mereka menganggap Aroma dupa tidak ubah nya seperti pewangi ruangan namun di luar pulau jawa kebiasaan ini mungkin tabu dan bertentangan dengan sudut pandang keraifan lokal sekitar.
Keberadaan sudut pandang dupa saja sudah berbeda tapi tidak menciptakan sebuah perpecahan itulah hebat nya Budaya,berbeda namun bisa menyatukan coba kalo politik berbeda bisa menjadi asbab perpecahan,biasanya seperti itu.
Jika kita mau mengaca dan mengaji terdapat sebuah korelasi antara Sejarah,Budaya dan Agama di negara ini dan itu pada satu tujuan yang sama yaitu Ketuhanan yang maha esa.
itu satu bukti bahwa indonesia itu kaya dan kekayaan paling mahal negara kita ini adalah Nilai sejarah dan Nilai Budaya.
Terkait bulan Suro itu seperti apa kembali kepada individu masing – masing dalam praktek pelaksanaan nya,jika mau melaksanakan nya dengan sesuai keyakinan dari agama monggo jika mau di tambahkan agama dan budaya juga silahkan bahkan yang diam sajapun ya silahkan,yakin lakukan tidak yakin jangan lakukan.
BNP 017



